Minggu, 31 Juli 2016

Virginia Woolf: Ironi dalam Fiksi Perempuan

Saya baru saja menyelesaikan membaca esai dari Virginia Woolf, A Room of One’s Own, sebuah kritik tajam terhadap peran gender dan privilese. Di sana, Woolf menekankan bahwa agar bisa menulis sebuah karya sastra yang bermutu, perempuan harus memiliki dua syarat utama: kamar pribadi dan uang yang cukup untuk menjaga otonominya.

Tentu kedua hal itu adalah syarat yang terdengar kejam, karena kedua syarat itu setidaknya semacam memberi gambaran bahwa penulis perempuan yang bisa berhasil dalam menulis fiksi adalah mereka yang memiliki beberapa privilese berikut:
  1. Perempuan dari kalangan sosial ekonomi menengah-atas. Karena hanya perempuan dari kondisi sosek tersebut yang setidaknya bisa mengakomodir sejumlah uang untuk dirinya sendiri agar bisa mengontrol otonominya. Woolf tidak memasukkan perempuan yang ‘bekerja’ sebagai orang yang bisa memenuhi syarat mengenai kepemilikan uang, karena jika perempuan tersebut melakukan pekerjaan lain, maka dia tidak akan bisa fokus pada tulisannya dan akan menghabiskan waktunya paling banyak tidak untuk menulis. Bukan berarti perempuan yang bekerja tidak akan bisa menulis fiksi, tapi Woolf memprediksi bahwa jenis perempuan seperti itu tidak akan pernah sanggup menulis dengan seluruh potensinya, dan karya-karyanya tidak akan bisa dianggap bermutu. Jadi Woolf menekankan bahwa uang untuk mempertahankan otonomi itu harus datang dari warisan atau sumbangan sukarela.
  2. Berpendidikan tinggi. Perempuan yang tidak memiliki akses terhadap pendidikan lanjutan cenderung tidak akan memiliki keluasan berpikir dan kemampuan berpikir kritis–atau yang juga dianalogikan sebagai 'kamar pribadi’. Ada banyak argumen untuk bisa menentang hal seperti ini sekarang, seperti misal, pendidikan tidak melulu harus datang dari bangku sekolah dan bisa dari mana saja. Tentu. Tapi akses terhadap mereka yang dapat memberi pelajaran untuk perluasan pikiran biasanya ada di wilayah sekolah. Kan ada internet sekarang? Banyak info di sana yang bisa dipelajari tanpa sekolah. Itu juga benar. Tapi apakah seorang lulusan SD, misalnya, dengan pekerjaan sebagai asisten bersih-bersih, akan melihat Tumblr dan pergerakan isu sosial, atau akan dapat menemukan situs-situs yang bisa dengan mudah diakses orang dengan pendidikan tinggi? Mungkin ada. Tapi 1: 1.000, atau mungkin dalam skala yang lebih besar.
  3. Muda. Mungkin usia 20-30. Di atas itu, perempuan biasanya sudah dituntut sana-sini untuk menikah. Dan dengan menikah, ada tambahan kewajiban baru yang perlu diemban sang perempuan, seperti mengurus anak, mengurus pekerjaan, mengurus rumah, dan lain-lain. Otonomi perempuan akan jadi lebih terbatas.
  4. Punya kamar pribadi. Secara fisik. Woolf lebih mengelaborasi aspek ini sebagai 'kemampuan untuk menolak distraksi’. Woolf menyarankan bahwa seorang perempuan harus memiliki setidaknya sebuah kamar pribadi yang memiliki kunci. Akan lebih baik lagi jika bisa menyewa kamar untuk sendiri yang jauh dari distraksi. Cara ini digunakan oleh Dee, penulis yang terkenal dengan seri Supernova. Walaupun dia sudah berkeluarga, tapi sewaktu menulis Perahu Kertas, dia memutuskan untuk mengontrak sebuah kamar sendirian, jauh dari keluarganya, selama 55 hari untuk penyelesaian naskahnya. Mungkin di jaman modern seperti sekarang, aspek ini harus makin dielaborasi dengan 'lepas dari internet dan ponsel’, karena banyak orang–termasuk saya–bisa mengurung diri di dalam kamar seharian tapi toh tetap tidak produktif menulis karena keasikan berselancar di facebook, twitter, tumblr, atau path. like what I’m doing now.
Mungkin yang membaca hal ini akan berusaha membentuk sebuah kontra argumen tentang syarat-syarat yang disebut di atas. Mungkin memang ada penulis perempuan yang berasal dari kalangan bawah, berpendidikan rendah, punya pekerjaan selain menulis, tidak lagi muda, namun karyanya masih bisa terkenal. Tapi coba teliti lagi. Benarkah tidak ada satu pun privilese pada perempuan itu yang membuatnya bisa menulis sebuah karya bermutu?

Let’s see Dee, Ayu Utami, Ika Natassa, dan penulis perempuan Indonesia best seller atau peraih award. Benarkah mereka bisa benar-benar lepas dari privilese? I don’t think so.
Inilah ironi dalam dunia kepenulisan perempuan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar