Minggu, 31 Juli 2016

Fiksi Sebagai Simbol Versus Tanda

Sumire, seorang tokoh dalam novel Haruki Murakami, Sputnik Sweetheart, pernah bertanya seperti ini, “Apa bedanya simbol dan tanda?” Si tokoh utama kemudian menjawab, “Simbol berlaku satu arah. Kaisar Jepang merupakan simbol Jepang, tapi bukan representasi Jepang secara keseluruhan. Sementara tanda berlaku dua arah. Jika Kaisar Jepang adalah tanda Jepang, maka otomatis seluruh Jepang adalah dirinya.”

Ini hal yang sangat menarik untuk direnungkan. Beberapa waktu lalu saya terlibat diskusi dengan beberapa orang kenalan penulis mengenai “fact vs. fiction”. Ada yang berpendapat bahwa fiksi itu bukan kenyataan, jadi tak perlulah penulis mengacu pada kenyataan. Kalau yang ada dalam imajinasi kita semua laki-laki itu macho, maka silakan tulis laki-laki macho itu dalam fiksi Anda, persetan dengan kenyataan bahwa 60% laki-laki itu tidak semacho model iklan susu kebugaran pria. Lalu ada orang yang berargumen bahwa banyak orang lebih memercayai fiksi daripada fakta, dan jika penulis mempunyai pemikiran bahwa fiksi tidak boleh berlandaskan pada fakta, hal tersebut hanya berakibat menimbulkan distorsi pada persepsi masyarakat.

Saya setengah setuju dengan kedua pendapat. Fiksi bukanlah kenyataan, tapi seringkali merupakan bentukan ideal dari harapan si penulis. Apa yang ada di dalam tulisan seorang penulis adalah gambaran ideal mengenai sistem kemasyarakatan dan gugatan terhadap struktur yang berlaku di dunia nyata. Di dunia nyata, misal, lebih dari 50% cowok macho seperti model bukanlah seorang straight, maka di novel boleh saja penulis protes dengan mengatakan “semua” cowok macho itu suka pada perempuan seksi. Itu hak, dan secara tidak langsung, opini penulis terhadap situasi yang ada.

Tapi saya juga setuju, bahwa banyak orang yang lebih percaya pada fiksi dibanding dunia nyata. Karena itu ada masanya gadis-gadis remaja tergila-gila pada vampir dan manusia setengah serigala. Karena itu banyak orang percaya bahwa perempuan canggung dan tidak menarik pasti bisa mendapatkan laki-laki seganteng Edward Cullen.

Siapa yang salah? Penulis? Atau pembaca?

Menurut saya, mencatut apa yang dikatakan Murakami melalui Sumire soal simbol dan tanda, yang salah adalah perbedaan pandangan penulis dan pembaca dalam mengapresiasi kisah. Penulis biasanya menjadikan fiksi sebagai simbol, sampel kemungkinan acak dari apa yang terjadi di masyarakat–ada, lho, perempuan tidak menarik yang dipacari dan menikah dengan laki-laki ganteng. Penulis melihat dan mengabadikan pengalaman serta imajinasinya ke dalam tulisan. Maka tulisan itu adalah simbol dari pengalaman penulis, tapi tidak merepresentasikan pengalaman manusia secara general.

Sementara itu, pembaca seringkali menjadikan fiksi sebagai tanda bagi masyarakat ideal yang berlaku secara general. Bahwa setidaknya pasti ada cukup banyak laki-laki yang mau memacari perempuan yang tidak menarik–cukup banyak untuk jadi pacar pembaca. Simbol dari penulis diterjemahkan sebagai tanda bagi pembaca, diaplikasikan secara general, dan menjadi dunia pemahaman pembaca. Karena itu kita mengenal adanya pergeseran stereotip pada masa-masa tertentu.

Fiksi bisa mengubah pola pikir masyarakat, ya, karena itu penulis sebaiknya berhati-hati dengan apa yang dia tulis. Di sisi lain, pembaca memang bisa terhanyut oleh fiksi, tapi sebaiknya bisa lebih memahami bahwa fiksi bukanlah kenyataan secara general–kalaupun kenyataan, setidaknya itu hanya berlaku pada sebagian kecil populasi manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar