Minggu, 31 Juli 2016

Sometimes It Doesn't Get Better

I just finished reading Jhumpa Lahiri’s The Lowland and Alexander Pushkin’s Dubrovsky and found similar thing between the two: that sometimes things don’t get better. Both stories told about a struggle in its characters and until the end it didn’t let go. I’ve read something similar in Hanya Yanagihara’s A Little Life. Readers protested about the non-happy ending, non-”it’s get better” motto, which seems like all American dreams or whatever. They said that it’s not a good conclusion to read, that it could affect readers’ mental health, etc, etc.

While I do agree that reading fictions could generally inverted some ideas into people’s head, I don’t think that’s mean happy ending is a must in a story. Giving positive light, yes, but then, what will we do when the fact is, not everything gets better?

Because there are things in this world that don’t get better.

Reading Pushkin, Lahiri and Yanagihara make me realizes that it takes a certain degree of courage to write about things that don’t get better. Some readers–most of it?–won’t like it. Moreover if it’s an unresoluted one. But still, they write and deliver their message beautifully
Because some things don’t get better. Some things stuck, or getting worse. Some things cannot have an answer. And that is life.

It makes me so envious.

Merasa Tidak Ada yang Mengerti Makna Tulisanmu?

Entah kenapa yang paling saya sering dengar dari beberapa penulis amatir–termasuk saya dulu–adalah tentang bagaimana tidak ada pembaca yang mengerti makna tulisan mereka. Hal ini biasanya terjadi pada penulis-penulis yang memasukkan banyak teori dan simbolisme rumit dalam karya mereka. Biasanya mereka akan langsung merasa seperti penulis non-mainstream yang karyanya hanya bisa dimaknai oleh mereka-mereka yang jenius.

Saya akan jelaskan dua kemungkinan kenapa pembaca tidak bisa mengerti makna tulisan Anda–yang sebenarnya toh itu bukan berarti Anda sebegitu keren dan dewanya:

1. Dekonstruksi makna

Derrida, seorang filsafat kajian sastra, pernah mengatakan “Pengarang telah mati,” yang berarti bahwa ketika tulisan Anda telah ada di tangan pembaca, mereka akan “mengkoding” kisah Anda dengan pemahaman mereka masing-masing. Bisa jadi ada pembaca yang bisa dengan tepat memahami makna tulisan Anda, tapi bisa jadi ada (banyak) yang tidak. Yang perlu diingat oleh para penulis adalah bahwa interpretasi itu sifatnya luas. A tidak melulu menjadi B–kecuali Anda menuliskannya sejelas, “Maka A adalah B.” Jika Anda tidak menuliskannya sejelas itu dan masih bermain simbolisme, percayalah, interpretasi terhadap karya Anda akan jarang ada yang bisa 100% sesuai dengan niatan Anda menulis karya tersebut. Pengarang telah mati. Begitu karya tersebut telah sampai di masyarakat, merekalah yang berhak menginterpretasikan karya Anda dengan pemahaman masing-masing. Anda boleh mendebat dan mempertahankan opini, tapi harus legowo kalau karya Anda disalahmengerti oleh pembaca.

2. Jangan menyulitkan pembaca

A.S. Laksana dan Kurt Vonnegut, dua penulis beda negara, punya satu kesamaan. Mereka sama-sama memberi nasihat bahwa jika menulis dan menyampaikan gagasan, sebisa mungkin jangan menyulitkan pemikiran pembaca. Tulis dengan jelas apa yang ingin Anda sampaikan dalam cerita, tidak perlu menulis dengan kata-kata bermakna ganda, karena hal itu bisa dimaknai lain oleh pembaca. Kalau Anda memang sengaja menulis dengan simbolisme dan metafora, maka terimalah risiko kalau tulisan Anda mungkin tidak akan sampai utuh seperti yang Anda mau di pikiran pembaca.

Jadi, siapa sebenarnya yang keliru? Si penerima pesan yang terlalu bodoh, atau si pemberi pesan yang terlalu angkuh?

Fiksi Sebagai Simbol Versus Tanda

Sumire, seorang tokoh dalam novel Haruki Murakami, Sputnik Sweetheart, pernah bertanya seperti ini, “Apa bedanya simbol dan tanda?” Si tokoh utama kemudian menjawab, “Simbol berlaku satu arah. Kaisar Jepang merupakan simbol Jepang, tapi bukan representasi Jepang secara keseluruhan. Sementara tanda berlaku dua arah. Jika Kaisar Jepang adalah tanda Jepang, maka otomatis seluruh Jepang adalah dirinya.”

Ini hal yang sangat menarik untuk direnungkan. Beberapa waktu lalu saya terlibat diskusi dengan beberapa orang kenalan penulis mengenai “fact vs. fiction”. Ada yang berpendapat bahwa fiksi itu bukan kenyataan, jadi tak perlulah penulis mengacu pada kenyataan. Kalau yang ada dalam imajinasi kita semua laki-laki itu macho, maka silakan tulis laki-laki macho itu dalam fiksi Anda, persetan dengan kenyataan bahwa 60% laki-laki itu tidak semacho model iklan susu kebugaran pria. Lalu ada orang yang berargumen bahwa banyak orang lebih memercayai fiksi daripada fakta, dan jika penulis mempunyai pemikiran bahwa fiksi tidak boleh berlandaskan pada fakta, hal tersebut hanya berakibat menimbulkan distorsi pada persepsi masyarakat.

Saya setengah setuju dengan kedua pendapat. Fiksi bukanlah kenyataan, tapi seringkali merupakan bentukan ideal dari harapan si penulis. Apa yang ada di dalam tulisan seorang penulis adalah gambaran ideal mengenai sistem kemasyarakatan dan gugatan terhadap struktur yang berlaku di dunia nyata. Di dunia nyata, misal, lebih dari 50% cowok macho seperti model bukanlah seorang straight, maka di novel boleh saja penulis protes dengan mengatakan “semua” cowok macho itu suka pada perempuan seksi. Itu hak, dan secara tidak langsung, opini penulis terhadap situasi yang ada.

Tapi saya juga setuju, bahwa banyak orang yang lebih percaya pada fiksi dibanding dunia nyata. Karena itu ada masanya gadis-gadis remaja tergila-gila pada vampir dan manusia setengah serigala. Karena itu banyak orang percaya bahwa perempuan canggung dan tidak menarik pasti bisa mendapatkan laki-laki seganteng Edward Cullen.

Siapa yang salah? Penulis? Atau pembaca?

Menurut saya, mencatut apa yang dikatakan Murakami melalui Sumire soal simbol dan tanda, yang salah adalah perbedaan pandangan penulis dan pembaca dalam mengapresiasi kisah. Penulis biasanya menjadikan fiksi sebagai simbol, sampel kemungkinan acak dari apa yang terjadi di masyarakat–ada, lho, perempuan tidak menarik yang dipacari dan menikah dengan laki-laki ganteng. Penulis melihat dan mengabadikan pengalaman serta imajinasinya ke dalam tulisan. Maka tulisan itu adalah simbol dari pengalaman penulis, tapi tidak merepresentasikan pengalaman manusia secara general.

Sementara itu, pembaca seringkali menjadikan fiksi sebagai tanda bagi masyarakat ideal yang berlaku secara general. Bahwa setidaknya pasti ada cukup banyak laki-laki yang mau memacari perempuan yang tidak menarik–cukup banyak untuk jadi pacar pembaca. Simbol dari penulis diterjemahkan sebagai tanda bagi pembaca, diaplikasikan secara general, dan menjadi dunia pemahaman pembaca. Karena itu kita mengenal adanya pergeseran stereotip pada masa-masa tertentu.

Fiksi bisa mengubah pola pikir masyarakat, ya, karena itu penulis sebaiknya berhati-hati dengan apa yang dia tulis. Di sisi lain, pembaca memang bisa terhanyut oleh fiksi, tapi sebaiknya bisa lebih memahami bahwa fiksi bukanlah kenyataan secara general–kalaupun kenyataan, setidaknya itu hanya berlaku pada sebagian kecil populasi manusia.

Virginia Woolf: Ironi dalam Fiksi Perempuan

Saya baru saja menyelesaikan membaca esai dari Virginia Woolf, A Room of One’s Own, sebuah kritik tajam terhadap peran gender dan privilese. Di sana, Woolf menekankan bahwa agar bisa menulis sebuah karya sastra yang bermutu, perempuan harus memiliki dua syarat utama: kamar pribadi dan uang yang cukup untuk menjaga otonominya.

Tentu kedua hal itu adalah syarat yang terdengar kejam, karena kedua syarat itu setidaknya semacam memberi gambaran bahwa penulis perempuan yang bisa berhasil dalam menulis fiksi adalah mereka yang memiliki beberapa privilese berikut:
  1. Perempuan dari kalangan sosial ekonomi menengah-atas. Karena hanya perempuan dari kondisi sosek tersebut yang setidaknya bisa mengakomodir sejumlah uang untuk dirinya sendiri agar bisa mengontrol otonominya. Woolf tidak memasukkan perempuan yang ‘bekerja’ sebagai orang yang bisa memenuhi syarat mengenai kepemilikan uang, karena jika perempuan tersebut melakukan pekerjaan lain, maka dia tidak akan bisa fokus pada tulisannya dan akan menghabiskan waktunya paling banyak tidak untuk menulis. Bukan berarti perempuan yang bekerja tidak akan bisa menulis fiksi, tapi Woolf memprediksi bahwa jenis perempuan seperti itu tidak akan pernah sanggup menulis dengan seluruh potensinya, dan karya-karyanya tidak akan bisa dianggap bermutu. Jadi Woolf menekankan bahwa uang untuk mempertahankan otonomi itu harus datang dari warisan atau sumbangan sukarela.
  2. Berpendidikan tinggi. Perempuan yang tidak memiliki akses terhadap pendidikan lanjutan cenderung tidak akan memiliki keluasan berpikir dan kemampuan berpikir kritis–atau yang juga dianalogikan sebagai 'kamar pribadi’. Ada banyak argumen untuk bisa menentang hal seperti ini sekarang, seperti misal, pendidikan tidak melulu harus datang dari bangku sekolah dan bisa dari mana saja. Tentu. Tapi akses terhadap mereka yang dapat memberi pelajaran untuk perluasan pikiran biasanya ada di wilayah sekolah. Kan ada internet sekarang? Banyak info di sana yang bisa dipelajari tanpa sekolah. Itu juga benar. Tapi apakah seorang lulusan SD, misalnya, dengan pekerjaan sebagai asisten bersih-bersih, akan melihat Tumblr dan pergerakan isu sosial, atau akan dapat menemukan situs-situs yang bisa dengan mudah diakses orang dengan pendidikan tinggi? Mungkin ada. Tapi 1: 1.000, atau mungkin dalam skala yang lebih besar.
  3. Muda. Mungkin usia 20-30. Di atas itu, perempuan biasanya sudah dituntut sana-sini untuk menikah. Dan dengan menikah, ada tambahan kewajiban baru yang perlu diemban sang perempuan, seperti mengurus anak, mengurus pekerjaan, mengurus rumah, dan lain-lain. Otonomi perempuan akan jadi lebih terbatas.
  4. Punya kamar pribadi. Secara fisik. Woolf lebih mengelaborasi aspek ini sebagai 'kemampuan untuk menolak distraksi’. Woolf menyarankan bahwa seorang perempuan harus memiliki setidaknya sebuah kamar pribadi yang memiliki kunci. Akan lebih baik lagi jika bisa menyewa kamar untuk sendiri yang jauh dari distraksi. Cara ini digunakan oleh Dee, penulis yang terkenal dengan seri Supernova. Walaupun dia sudah berkeluarga, tapi sewaktu menulis Perahu Kertas, dia memutuskan untuk mengontrak sebuah kamar sendirian, jauh dari keluarganya, selama 55 hari untuk penyelesaian naskahnya. Mungkin di jaman modern seperti sekarang, aspek ini harus makin dielaborasi dengan 'lepas dari internet dan ponsel’, karena banyak orang–termasuk saya–bisa mengurung diri di dalam kamar seharian tapi toh tetap tidak produktif menulis karena keasikan berselancar di facebook, twitter, tumblr, atau path. like what I’m doing now.
Mungkin yang membaca hal ini akan berusaha membentuk sebuah kontra argumen tentang syarat-syarat yang disebut di atas. Mungkin memang ada penulis perempuan yang berasal dari kalangan bawah, berpendidikan rendah, punya pekerjaan selain menulis, tidak lagi muda, namun karyanya masih bisa terkenal. Tapi coba teliti lagi. Benarkah tidak ada satu pun privilese pada perempuan itu yang membuatnya bisa menulis sebuah karya bermutu?

Let’s see Dee, Ayu Utami, Ika Natassa, dan penulis perempuan Indonesia best seller atau peraih award. Benarkah mereka bisa benar-benar lepas dari privilese? I don’t think so.
Inilah ironi dalam dunia kepenulisan perempuan.

Blog baru lagi?

Halo! Saya bikin blog baru lagi!

Iya, capek ya ngikutin saya? Saya juga capek. :(

Sebenarnya maksud hati awalnya ingin membangkitkan lagi blog Kopi dan Skeptisisme yang sudah terlantar selama tiga tahun lebih karena ingin kembali menulis esai-esai pemikiran campur curhatan. Apa daya, begitu sambang ke sana....

.....ternyata saya lupa username, password dan email yang saya pakai untuk blog itu.

Saya juga sebelumnya punya blog pribadi di tumblr, tapi kemudian merasa kalau saya nggak begitu cocok dengan tumblr karena situsnya terlalu berat, jadi setiap saya nulis agak panjang sedikit pasti crash. Ah, nasib.

Jadi, saya bikin blog baru saja. Mungkin nanti bakal cross-post tulisan dari blog tumblr ke sini. Semoga yang kali ini bertahan lama. *crossing fingers*